FENOMENA SOUND HOREG, BERIKUT FAKTA FAKTA SOUND HOREG PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN DAMPAK BAGI KESEHATAN MENTAL

Penulis ingat, diawal perkuliahan di tahun 2010 di kota malang, fenomena sound horeg yang dulu nya sangat di gandrungi oleh masyarakat sekitar tidak pernah heboh seheboh saat ini. tapi kira-kira tahu gak sih apa penyebab fenomena sound horeg ini jadi heboh saat ini. Kita coba kupas tuntas di tulisan ini ya, simak sampai selesai. 

Dalam pandangan seorang psikolog sosial, fenomena "sound horeg" – suara musik yang sangat keras dan berlebihan, seringkali diiringi dengan dentuman bass yang menggelegar – dapat dianalisis melalui beberapa lensa teori psikologi sosial yang relevan. Ini bukan sekadar preferensi musikal, melainkan sebuah manifestasi kompleks dari interaksi individu dengan kelompok, identitas sosial, dan dampak lingkungan akustik.


Pengaruh Kelompok dan Konformitas Sosial
Salah satu aspek paling menonjol dari fenomena sound horeg adalah pengaruh kelompok. Seringkali, individu terlibat dalam aktivitas ini karena teman-teman mereka melakukannya, atau karena ada tekanan tak langsung untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok tertentu.
Menurut Solomon Asch, individu cenderung mengubah perilaku atau keyakinan mereka agar sesuai dengan norma kelompok, bahkan jika mereka secara pribadi tidak setuju. Dalam konteks sound horeg, mungkin ada individu yang sebenarnya merasa tidak nyaman dengan volume yang ekstrem, tetapi enggan untuk menyuarakan keberatan mereka karena takut dianggap aneh atau tidak gaul oleh kelompoknya. Mereka memilih untuk konformitas demi menjaga keharmonisan sosial atau afiliasi kelompok.
Lebih lanjut, teori identitas sosial yang dikemukakan oleh Henri Tajfel dan John Turner menjelaskan bagaimana individu memperoleh rasa harga diri dan identitas dari keanggotaan kelompok. Bagi sebagian penggemar sound horeg, bergabung dengan komunitas yang menyukai musik keras ini dapat memberikan rasa memiliki dan identiti yang kuat. Semakin ekstrem suara yang dihasilkan, semakin besar pula kemungkinan kelompok tersebut merasa unik dan berbeda dari kelompok lain, menciptakan semacam in-group favoritism.
Perilaku Agresi dan Pelepasan Emosi
Meskipun tidak selalu, dalam beberapa kasus, volume yang ekstrem dan dentuman bass yang menggelegar dapat diasosiasikan dengan pelepasan energi atau bahkan agresi. Leonard Berkowitz dengan teori agresi situasionalnya menyatakan bahwa isyarat atau stimulus tertentu di lingkungan dapat memicu perilaku agresif. Dalam konteks sound horeg, suara yang sangat dominan dan menggetarkan bisa menjadi stimulus yang memicu kegembiraan berlebihan yang kadang berujung pada perilaku impulsif atau konfrontatif, terutama dalam kerumunan.
Selain itu, musik keras juga bisa menjadi saluran untuk katarsis – pelepasan emosi yang terpendam. Individu mungkin menggunakan pengalaman ini sebagai cara untuk melepaskan stres, frustrasi, atau bahkan kemarahan. Namun, pertanyaan tetap ada apakah katarsis ini benar-benar efektif dalam jangka panjang atau justru memperkuat kebutuhan akan stimulus yang lebih intens.
Dampak Lingkungan dan Psikologi Lingkungan
Dari perspektif psikologi lingkungan, fenomena sound horeg menyoroti bagaimana lingkungan akustik dapat memengaruhi perilaku dan kesejahteraan psikologis. Meskipun bagi sebagian orang ini adalah bentuk hiburan, bagi sebagian orang lain pula, kebisingan ekstrem dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, dan bahkan masalah kesehatan fisik (Khususnya telinga). Karena suara yang dihasilkan oleh fenomena sound horeg ini diyakini oleh beberapa pengamat lebih dari 130 DBS, yang artinya melebihi standar suara yang disarankan oleh telinga manusia pada konteks suara normal. 
Konsep beban kognitif juga relevan di sini. Paparan kebisingan yang terus-menerus dan berlebihan dapat membebani kapasitas kognitif kita, membuat kita lebih sulit berkonsentrasi, dan meningkatkan tingkat iritabilitas.


Bagaimana Menyikapi Fenomena Sound Horeg dari Perspektif Psikologi
Menyikapi fenomena sound horeg dari perspektif psikologi sosial memerlukan pendekatan yang komprehensif, tidak sekadar melarang atau mengecam.
* Pendidikan dan Kesadaran: Penting untuk mengedukasi masyarakat tentang dampak kebisingan ekstrem terhadap kesehatan fisik dan mental. Ini bukan tentang melarang ekspresi musikal, tetapi tentang mempromosikan tanggung jawab sosial dan kesadaran akan hak orang lain untuk lingkungan yang tenang.
* Mendorong Norma Sosial yang Sehat: Alih-alih hanya berfokus pada individu, kita perlu mendorong pembentukan norma sosial yang mengedepankan keseimbangan dan rasa hormat terhadap lingkungan sekitar. Ini bisa dimulai dari komunitas terkecil hingga skala yang lebih besar.
* Mencari Alternatif Ekspresi Identitas: Bagi mereka yang menggunakan sound horeg sebagai bentuk ekspresi identitas kelompok, penting untuk membantu mereka menemukan saluran lain yang lebih konstruktif dan tidak merugikan orang lain. Ini bisa melalui hobi, olahraga, atau kegiatan seni lainnya yang tetap memperkuat ikatan kelompok namun tanpa dampak negatif.
* Dialog dan Mediasi: Ketika konflik muncul akibat kebisingan, pendekatan dialog dan mediasi antar pihak yang bertikai lebih efektif daripada konfrontasi langsung. Memahami motivasi di balik preferensi sound horeg dan mencari titik temu adalah kunci untuk solusi yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, fenomena sound horeg adalah cerminan kompleks dari dinamika psikologi sosial. Dengan memahami akar masalahnya dari perspektif individu dan kelompok, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengelola dan menyikapi fenomena ini agar tercipta harmoni sosial yang lebih baik.


Di tahun 2010-an itu pula penulis pernah mengamati fenomena sound horeg yang hampir tidak ada di daerah perkampungan. Sound Horeg zaman itu hanya ada di wilayah pesisir pantai selatan sepanjang jalanan menuju pantai balaikambang atau pantai sendang biru. Sehingga bagi peminat sound horeg saat itu, tidak begitu sampai merusak keadaan fisik maupun kondisi rumah/fasilitas umum lainnya seperti yang kita tahu di pemberitaan. Sound horeg zaman itu jauh dari perkampungan, tepat berada di daerah pesisir dengan keadaan geografi yang terbuka dengan hamparan pemandangan sepanjang pantai selatan malang. namun saat ini, fenomena ini menjelma di kampung-kampung dengan berbagai dalih. Semua kita kembalikan kepada diri kita, tentu ada pro kontra. Hemat saya, selama anda tidak merugikan orang lain, lanjutkan, selama anda merugikan orang lain, cobalah mengerti. 

Jangan lupa untuk selalu aktifkan notifikasi media sosial resmi kami hanya di kanal resmi difergent consulting. 

 

terima kasih 

 

 

Penulis